materi android fortinity

Pendahuluan Materi Menjadi Android Developer

Materi Android #1

Kali ini penulis akan mulai membahas materi mengenai android, dimana nanti akan terdapat beberapa bagian materi yang akan ditulis pada postingan selanjutnya dalam blog di Fortinity ini. Jadi tetap pantau terus karena nantinya admin akan membagikan ilmu yang pernah admin pelajari sampai saat ini dan seterusnya buat Anda. Materi pertama yang akan di bahas adalah pengenalan mengenai android itu sendiri. Apa itu android? Mengapa android?

Apa itu Android?

Android adalah sistem operasi yang dikeluarkan oleh Google. Android dibuat khusus untuk smartphone dan tablet. Berbagai macam produsen telah menggunakan Android sebagai sistem operasi untuk peranti (device) yang mereka produksi. Android juga mempunyai store dengan lebih dari 2 miliar pengguna aktif, per Januari 2018.

Mengapa Android?

Kenapa menggunakan Android?

Android memanjakan penggunanya dengan fitur yang sangat canggih dan tampilan yang bagus. Sistem Android dapat digunakan sebagai alat multimedia seperti pemutar musik dan video. Ia juga memiliki perangkat keras seperti accelerometer, gyroscope, dan sensor lainnya.

Disamping itu ada beberapa hal yang membuat Android sebagai sistem operasi yang memang layak digunakan oleh pengguna atau dikembangkan para developer, seperti yang akan diuraikan berikut ini.

Sistem Operasi Smartphone Terpopuler

Sejak dirilis tahun 2008, Google telah mengeluarkan beberapa versi, dengan “Android 10” sebagai versi yang terbaru.

Pada tahun 2013, Android menjadi operating system (OS) terlaris pada tablet dan smartphone. Tercatat pada tahun 2016, store Android memiliki lebih dari 2.8 juta aplikasi.

Android menarik bagi perusahaan teknologi yang membutuhkan barang siap jadi, biaya rendah dan kustomisasi OS untuk perangkat teknologi tinggi mereka. Hal ini menjadi daya tarik bagi banyak perusahaan, sehingga mereka memilih Android.

Source code dari Android bersifat open source. Ini adalah hal menarik bagi komunitas developer, karena lisensi open source sangat mendukung untuk mengembangkan produknya dengan aman.

Store

Aplikasi Android bisa didistribusikan menggunakan web, copy APK, dan store. Store Android, yaitu Google Play, merupakan cara termudah bagi para developer untuk mendistribusikan aplikasinya ke pasar yang memiliki miliaran pengguna.

Google play merupakan store resmi Android yang dikelola oleh Google. Pengguna bisa mencari dan mengunduh aplikasi yang dikembangkan dengan menggunakan Android Software Development Kit. Tidak hanya aplikasi yang ditawarkan di Google Play. Ada beragam konten lainnya yang dapat dinikmati pengguna, misalnya media digital, musik, buku, majalah, film, dan program televisi.

Bagaimana para developer memonetisasi aplikasi yang ada di dalam Google Play? Strategi monetisasi aplikasi yang ditawarkan Google Play ada bermacam-macam. Dimulai dari app berbayar (paid distribution), pembelian dalam aplikasi (in-app purchase), langganan (subscriptions), dan iklan (ads). Tentunya developer harus mengikuti aturan yang ada untuk memastikan bahwa pengguna mendapatkan pengalaman (user experience) yang paling baik.

Development Kit untuk developer

Android Software Development Kit (SDK) merupakan kit yang bisa digunakan oleh para developer untuk mengembangkan aplikasi berbasis Android. Di dalamnya, terdapat beberapa tools seperti debugger, software libraries, emulator, dokumentasi, sample code, dan tutorial.

Bahasa pemrograman yang sering digunakan untuk mengembangkan aplikasi Android adalah Java. Namun ada beberapa bahasa lainnya yang dapat digunakan, seperti C++, dan Go. Pada IO 2017, Google juga meresmikan penggunaan kotlin sebagai tambahan bahasa resmi.

Berbicara tentang pemrograman tentunya tidak lepas dari Integrated Development Environment (IDE). Pada 2014 Google mengeluarkan IDE yang bernama Android Studio yang berbasiskan Intellij IDEA.

Dengan menggunakan Android Studio, para developer dapat membuat aplikasi dari nol hingga dipublikasikan ke dealam store. Android Studio juga mempunyai beberapa fitur built-in yang sangat membantu para developer untuk memaksimalkan proses pembuatan aplikasi. Fitur-fitur ini misalnya Gradle, Code Completion, dan beragam integrasi dengan layanan Google seperti Firebase.

ART dan DVM

DVM menerapkan pendekatan JIT (Just-In-Time), di mana kompilasi dijalankan setiap kali ada permintaan untuk menjalankan aplikasi. Sedangkan ART (Android Runtime) menerapkan pendekatan berbeda yaitu AOT (Ahead-Of-Time). AOT melakukan kompilasi pada saat proses instalasi aplikasi.

Dari versi Lollipop hingga Oreo, Android sepenuhnya mengadopsi ART. Kenapa demikian? DVM menggunakan JIT yang berarti kompilasi dilakukan setiap kali aplikasi dijalankan. Hal ini sangat mempengaruhi kecepatan respon aplikasi. Setiap kali kita menyentuh ikon aplikasi maka kompilasi akan dilakukan. Tentu proses ini menghabiskan CPU dan berimbas pada relatif lebih borosnya penggunaan baterai.

Beda dengan DVM, ART melakukan proses kompilasi pada saat proses instalasi. Jadi setiap kali aplikasi dijalankan, sudah tidak ada lagi proses kompilasi. Hal ini meningkatkan performa dalam menjalankan aplikasi. Selain itu, karena penggunaan sumber daya CPU bisa dikurangi, pemakaian baterai jadi lebih hemat. Akan tetapi ART membutuhkan space (ukuran berkas) yang lebih besar jika dibandingkan dengan DVM.

Penutup

Demikian tulisan yang admin buat mengenai materi android itu sendiri. Semoga dapat bermanfaat untuk pembaca sekalian. Terima kasih.

Referensi Materi : Dicoding Indonesia

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *